Asa Sejahtera Dari Desa

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Wednesday, 11 May 2016

Beras Raskin: Beban yang Tak Kunjung Terselesaikan


Sudah dua bulan ini jatah raskin yang diterima RT yang akan dibagikan kepada Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTSPM) dikemas dalam karung ukuran 50 kg. Sehingga kesulitan pun bertambah lagi. Karena biasanya setiap warga yang berhak menerimanya itu tinggal memanggul satu karung ukuran 15 kg, maka sekarang ini karung itu musti di bongkar. Lalu isinya ditimbang lagi sebelum diterima masing-masing warga RTSPM .

Persoalan baru pun muncul. Dan RT dibuat pusing tujuh keliling, tentu saja. Isi karung itu tidak pernah pas 50 kg ternyata. Kadang-kadang dari setiap karungnya ada yang susut 2, 3, 4, 5, malahan sampai ada yang 10 kg kurangnya itu. persoalan itu pun kembali menjadi bebannya memang.
Setelah menyeruput kopinya, Pak RT melepas peci hitamnya. Lalu rambut di kepalanya yang sudah hampir semuanya memutih itu digaruk-garuk dengan jari tangannya.

“Pusing... Pusing. Padahal saya harus tetap menyetor sesuai jumlah karung yang diterima,” keluhnya.

“Lalu bagaimana untuk mengganti kekurangannya?” tanya pemilik warung kopi menyelidik.

“Itulah masalahnya. Gaji RT saja ‘kan cuma Rp 30 ribu saja yang saya terima saban bulannya. Itu pun dirapelkan setiap triwulan sekali. Sedangkan penghasilan dari kuli ngangkut pasir pun paling cukup buat kebutuhan dapur sehari-hari. Kadang-kadang malahan sering kurang juga.”

“Maka dari itu, sebagaimana kita ketahui selama ini, harga jual raskin tidak lagi sesuai pagu, yakni Rp 1.600 per kilogramnya.  Mengingat karena sering terjadinya penyusutan, yang entah apa sebabnya, lalu biaya angkut dari titik distribusi pada masing-masing RT, maka atas kesepakatan semua pihak, pemerintah desa terpaksa menaikkan jumlah harga raskin sebesar itu Rp1.800-Rp2.000 per kg,” terang Pak RT seperti sedang berorasi saja laiknya.

“Tapi masalah ini jangan sampai didengar LSM dan wartawan, ya. Bisa bahaya. Paling tidak uang yang seharusnya untuk mengganti biaya angkut dan penyusutan, malah diberikan pada mereka.”

 “Masalah raskin ini seperti benang kusut saja memang. Sekilas pemerintah telah melaksanakan amanat UUD ’45 memang. Tetapi  dalam kenyataannya seakan hanya setengah hati saja. Rakyat miskin masih saja tetap berada di pinggiran. Malahan seakan tepat berada di tepi jurang,” Jang Ridwan  buka suara. Semua mata menatap ke arahnya.

“Coba saja bayangkan. Beras yang diterima mereka selain begitu buruk kualitasnya, tidak pernah pas lagi timbangannya. Keluhan itu sepertinya selalu terdengar, tetapi pemerintah  seolah tetap saja tidak pernah mau memperbaikinya. Demikian juga halnya dengan harga jual yang tidak sesuai dengan pagu – seperti yang dikatakan Pak RT tadi, suka maupun tidak suka tetap saja pelanggaran namanya. Tetapi hal itu tidak hanya terjadi di desa kita saja, pada umumnya di desa lain pun mengalami kejadian serupa. Sebagaimana ditetapkan, titik distribusi raskin adalah di setiap kantor Desa. Sedangkan luas wilayah sebuah desa yang paling sedikit memiliki tiga kedusunan, rata-rata mencapai radius dua kilometer. Suatu hal yang mustahil seorang warga RTSPM yang berdomisili di kedusunan yang jaraknya paling jauh dari titik distribusi, dan kondisinya sudah jompo lagi, harus mengambil beras sendiri yang beratnya 15 kilogram.

Sementara masalah LSM dan wartawan, pada dasarnya mereka sudah melakukan tugasnya sebagai kontrol sosial. Apa salahnya Pak RT berterus terang, dan biarkan mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri permasalahan yang sebenarnya terjadi. Siapa tahu mereka akan membantu untuk memecahkan permasalahan ini. Hanya saja bila ada LSM dan wartawan yang disumpal dengan amplop lalu pulang, itu lain lagi persoalannya. LSM dan wartawan seperti itu abal-abal namanya.”
Share:

Friday, 11 March 2016

Membangun Jiwa Dan Semangat Wirausaha

Oleh Suhendi, S.Sos.,MM
Berwirausaha memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun harus siap menjalani berbagai tantangan. Tidak sedikit orang yang berhenti menjadi wirausahawan dan lebih suka melamar pada sebuah perusahaan untuk bekerja menjadi karyawan dengan gaji yang aman dan rutin setiap bulan, karena mental yang lemah dalam menghadapi tantangan ini.
Berbagai tantangan harus siap kita hadapi. Misalnya, penghasilan yang tidak tetap dan kecil, sementara kebutuhan hidup tanpa ampun menyerang dari segenap penjuru. Kitapun dihantui rasa tidak aman dalam berwirausaha. Juga godaan untuk tidak berkomitmen dalam berwirausaha. Itu semua hanyalah godaan. Di sisi lain, masyarakat Indonesia kurang mampu dalam berinovasi dan berkreativitas menjadi salah satu penyebab banyaknya usaha yang bangkrut, padahal modal sudah tersedia.
Berwirausaha memang tak cukup hanya bermodalkan rasa ingin belaka. Berwirausaha harus merupakan pilihan, lalu menetapkan langkah pasti dan teguh dalam menjalaninya. Idealnya, komitmen dan konsistensi itu harus terus dijaga apapun ujiannya, apapun godaannya, dan apapun hasilnya. Apalagi tingkat persaingan usaha dan perilaku pasar semakin dinamis. Wirausahawan harus memiliki keyakinan, cita-cita untuk menjadi besar diawali dengan langkah-langkah kecil.

Berwirausaha dalam Pandangan Islam

Dalam Islam, berwirausaha merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, karena keberadaannya sebagai khalifah fil-ardh  untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik. Dalam surat Al-Jumu’ah [62] : 10 “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan banyak-banyak mengingat Allah supaya kamu beruntung”.
Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang terus mendorong semangat wirausaha di kalangan para sahabat-sahabatnya. Pada suatu ketika, Sa’ad bin Musa Al-Anshari menuturkan sebuah kisah, bahwa pada waktu Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa’ad yang melepuh. Kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasulullah. “Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”  Rasulullah lalu mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak pernah disentuh api neraka, Dalam riwayat yang lain, setelah mencium tangan pekerja, beliau bersabda, “Hadzihi yaddun yuhibuhallahu wa Rasuuluhu” inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. “ (HR At-Thabahari)
Rasulullah pernah menjalani hidup dalam masa-masa sulit, tapi beliau punya semangat untuk berkembang, kreatifitasnya, usahanya untuk hidup mandiri yang merupakan karakter dasar jiwa wirausaha.
Kejujuran beliau, pribadi beliau yang menyenangkan, juga ketekunan beliau. Semua itu merupakan modal yang harus dimiliki oleh wirausahawan. Apa yang dimiliki Rasulullah ini, dalam dunia bisnis, biasa disebut sebagai personality.
Dua puluh lima tahun lamanya Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam mendedikasikan diri pada dunia wirausaha, semenjak beliau baru berusia 12 tahun hingga 37 tahun. Selama itu, kecerdasan, ketekunan, keuletan dan kejujuran telah menempatkan Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam sebagai wirausahawan yang disegani di Jazirah Arab.

Menumbuhkan wirausaha

Dalam berbagai pelatihan dan seminar, Ir. Ciputra selalu mengajukan tujuh macam pertanyaan mendasar untuk membangun dan memicu jiwa kewirausahaan.
  1. Apakah Anda berhasrat besar menjadi seorang entrepreneur? Anda dapat memberikan pernyataan-pernyataan utuk dapat meyakinkan orang lain bahwa Anda benar-benar memiliki hasrat besar untuk menjadi wirausahawan.
  2. Apakah Anda melihat kesempatan besar untuk melayani pasar? Apakah kita melihat sebuah peluang besar yang belum dilakukan orang lain?
  3. Apakah Anda punya produk inovatif yang sulit ditolak oleh prospek Anda? Apa “kuda Troya” Anda?
  4. Apakah Anda mampu memenangkan persaingan secara efektif? Jadilah yang lebih baik bukan hanya di barisan belakang. Jika Anda tidak dapat menjadi lebih baik, ciptakan perbedaan.
  5. Apakah Anda bisa menghasilkan produk dan memasarkannya dengan cara yang paling efisien? Sebagian kecil orang membeli karena mahal. Sebagian besar orang membeli karena murah.
  6. Apakah Anda tahu cara mendanai ide usaha baru Anda dengan biaya termurah, resiko terendah dan hasil yang terbaik? Misalnya dengan: modal sendiri, mitra, bank, modal ventura, atau mencicil?
  7. Apakah Anda siap menghadapi tuntutan kerja keras, berani menanggung resiko gagal dan rugi? Perlu juga disiapkan mentalitas, bahwa sukses dan gagal memiliki nilai yang sama.
Ketujuh pertanyaan di atas meruapakan pelajaran untuk mengembangkan jiwa dan semangat entrepreneurship yang secara terus menerus harus kita kembangkan.

Budaya

Wirausaha membutuhkan suatu skill untuk menjalankan usahanya. Skill tersebut bisa berupa cakap menjual dan integritas yang tinggi. Selain itu harus juga mempunyai sikap ulet, gigih, pandai, disiplin, pantang menyerah, dan mempunyai pikiran yang terbuka.
Sepengetahuan penulis, sikap seseorang bisa terbentuk karena pengaruh budaya di mana dia hidup dan berkembang. Jadi sikap seseorang dan skill seseorang bisa terpengaruh dari kebudayaan dimana orang tersebut tinggal.

Upaya Pemerintah

Joseph Schumpeter dalam bukunya, The Theory of Economic Development mengatakan, sebuah kebutuhan dasar bagi bangkitnya pertumbuhan ekonomi suatu negara, yaitu sumbangsih para entrepreneur. Jadi, keberadaan para entrepreneur pada suatu negara akan mampu menumbuhkan perekonomian negara tersebut.
Indonesia membutuhkan sekitar 2,5% wirausaha, namun pada kenyataannya saat ini hanya ada sekitar 0,08% wirausaha yang memberanikan diri untuk terjun dalam dunia usaha.  Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk menumbuhkan para wirausahawan ini. Pertama, memberikan modal usaha bagi para pengusaha (terutama para pengusaha muda) dan pendampingannya. Kedua mempermudah izin bagi yang akan mendirikan usaha. Ketiga, dimasukannya kurikulum berbasis soft skills dan entrepreneurship dalam pelajaran sekolah untuk segala jenjang pendidikan. ***
Penulis, dosen di Stikom Bandung dan Pemerhati Manajemen SDM.
Sumber: Majalah Cetak Edisi September 2010
Share: